Sabtu, 09 April 2011

Mengembalikan Jati Diri Bangsa

Bangsa ini telah mengalami beragam rupa Jati Diri sejak masa kolonialisme. Di masa penjajahan, Jati Diri Bangsa kita masih terpisah - pisah kepada masing - masing suku bangsa, baru setelah momentum Kebangkitan Nasional 1908, jati diri yang selama ini belum terlihat menyatu mulai tampak. Namun benarkah jati diri bangsa ini sekarang telah memudar? apakah perlu kita Mengembalikan Jati Diri Bangsa?

Jati diri bangsa sedianya haruslah dapat dirasakan oleh semua orang, bukan hanya dari dalam negeri kita saja, namun dunia internasional harus dapat merasakan dan melihatnya dan hal ini sedianya akan terjadi secara alamiah. Maka jati diri bangsa pun menjadi exist. Terbentuknya jati diri suatu bangsa juga tidak lepas dari faktor sejarah dari bangsa tersebut.
Kebangkitan Nasional 1908 telah menyatukan dan membentuk embrio dari jati diri bangsa kita. Rasa kesadaran akan persatuan dan kesatuan mulai tumbuh saat itu. Ini adalah sesuatu yang benar - benar baru selama kurun waktu 350 tahun masa penjajahan. Pada momentum ini juga berdirinya organisasi nasional pertama di Indonesia yang mana kelak akan diikuti dengan berdirinya partai politik pertama yaitu Indische Partij pada tahun 1912.

Sumpah pemuda 1928 telah menyatukan visi pemuda bangsa ini dari berbagai suku bangsa, momentum ini sekaligus melanjutkan perkembangan embrio dari jati diri bangsa yang telah tumbuh pada saat Kebangkitan Bangsa 1908 sebagai satu kesatuan dari suku - suku bangsa. Nilai - nilai nasionalisme dan kesadaran akan satu perlawanan mewarnai jati diri bangsa kita kala itu.
Nilai - nilai tersebut diteruskan hingga momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Presiden Soekarno meneruskan nilai - nilai awal jati diri bangsa kita, dan pada pemerintahan beliau, penguatan akan karakter jati diri makin bertambah seiring dengan penyadran akan harga diri bangsa. Ya, rakyat Indonesia pada masa itu memiliki rasa nasionalisme dan harga diri yang tinggi. Masa dimana Presiden Soekarno memerintah disebut sebagai masa perjuangan revolusi, atau pada masa orde baru disebut orde lama.
Hingga pada masa turunnya Presiden Soekarno pada tahun 1966 digantikan oleh Presiden Soeharto. Perubahan dari jati diri bangsa ini mulai terlihat diawal tahun 1970-an, Presiden Soeharto kala itu memang memiliki visi pada pembangunan ekonomi. Jati diri bangsa ini lalu mengalami proses transformasi, dimasa pembangunan ekonomi, jati diri bangsa ini dicitrakan sebagai bangsa yang ramah dan suka bergotong royong. Periode pemerintahan Soeharto ini kerap disebut juga dengan Orde Baru.

Sayangnya pencitraan positif tersebut lantas meninggalkan jati diri lamanya. Segala hal yang berbau nasionalisme kala itu dipilah -pilah, nasionalisme yang mengarah pada ajaran Soekarno (kerap disebut Soekarnoisme) dianggap berbahaya dan bahkan dapat dicurigai sebagai komunis. Pada masa Presiden Soeharto, nasionalisme di kemas ulang dalam satu bentuk paket ajar, yang dikenal dengan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila).Hingga msuk pada fase pasca orde baru, atau masa reformasi. Masa setelah turunnya Presiden Soeharto pasca kerusuhan Mei 1998. Banyak yang meyakini, disinilah jati diri bangsa Indonesia mulai kehilangan bentuknya lagi.

Hingga saat ini, ditengah pencarian jati dirinya, bangsa ini menghadapai berbagai cobaan. Dari mulai bencana alam, separatisme, hingga perubahan dari perilaku sosial masyarakat secara keseluruhan.

Siklus mungkin memang berputar, sejak masa revolusi hingga masa reformasi, meski demikian pencarian jati diri bangsa semestinya tidaklah sulit, karena sebenarnya sudah pernah ada, namun sesaat dilupakan, karena kita semua mencari - cari apakah ada sesuatu yang baru, apakah ada identitas baru yang lebih sempurna.

Masalahnya, sampai kapan kita akan mencari jati diri baru tersebut? Kapankah waktunya kita Mengembalikan Jati Diri Bangsa yang dulu pernah ada?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar